50 % Iklan di blog ini disumbangkan
untuk kegiatan lingkungan hidup,
bencana alam dan pengembangan
kegiatan di alam bebas.
Satu Klik Rp. 300,-

Deddy Madjmoe :Kegelisahan Penjaga Lingkungan


Banjir, longsor, dan kerusakan lingkungan menjadi keresahan hidup Deddy Madjmoe (42). Di Ciledug Wetan, desa kecil di pinggir pantai utara Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, aktivis lingkungan ini memilih mengorbankan waktu dan tenaga untuk menggerakkan puluhan warga guna mengembalikan lingkungan desanya agar hijau lagi.
Deddy akrab dipanggil dengan Deddy Kermit. Panggilan Kermit—si katak hijau dalam serial televisi—itu karena sejak SMA tahun 1987 dia suka mendaki gunung dan aktivitas cinta alam lainnya.
Deddy, yang sehari-hari bekerja sebagai herbalis, sangat memerhatikan ketidakberesan alam. Ia resah melihat sekawanan rusa dan babi hutan yang turun dari hutan di perbukitan karena kekeringan. ”Ini tidak biasa,” katanya suatu saat.
Deddy menangkap keganjilan alam tersebut. Ia tahu betul ada yang tak beres dan dia tak berhenti mencari tahu penyebabnya.
Dua tahun lalu, Deddy dan kawan-kawan dari Perkumpulan Pencinta Kelestarian Alam (Petakala) Grage, Cirebon, melepaskan induk rusa di hutan Gunung Tilu, perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Induk rusa itu diharapkan bisa berkembang biak secara alami karena populasinya kian menciut akibat perburuan, permukiman, dan perladangan. Namun kini, rusa-rusa itu justru mendekati perkampungan.
Karena penasaran, Deddy dan kawan-kawannya pun mengadakan survei kecil tentang mata air. Hasilnya, ternyata alam memang sudah terdegradasi. Tiga mata air yang ditemukan ternyata semuanya sudah tak lagi menyediakan air berlimpah.
Mata air di hutan Caringin, misalnya, kering pada musim kemarau. Adapun mata air Jamberancak hanya mengalir dengan volume kecil. Hutan-hutan habitat babi dan rusa yang dahulu hijau berubah menjadi ladang tebu dan tambang pasir. Hutan tak lagi menyediakan cukup air untuk penghuninya, seperti rusa dan babi hutan, pada musim kemarau.
Kegelisahan Deddy berlanjut dan mendorongnya untuk terlibat langsung dalam aksi lingkungan. Pada Januari 2010, saat banjir mengepung Cirebon, pemanjat tebing ini mengabaikan pekerjaannya sebagai herbalis.
Setiap hari ia memantau ketinggian air Sungai Cisanggarung yang hampir selalu meluap saat hujan. Di kala warga lain terlelap tidur, ia memilih menjadi sukarelawan siaga banjir dan membantu warga yang kebanjiran.
Saat tanggul desa jebol dan melimpahkan isi sungai ke perkampungan, merendam persawahan, dan usaha batu bata warga, kegelisahan Deddy pun memuncak. Ia berkali-kali mengadu kepada pemerintah tentang derita warga di wilayahnya akibat banjir karena sedimentasi dan jebolnya tanggul. Karena tak segera ditanggapi, ia dan rekan-rekannya pun akhirnya bergerak sendiri.

Bermodal tenaga dan tekad, Deddy bersama warga dan para aktivis di Petakala Grage membangun tanggul darurat secara swadaya. Modalnya hanya bambu, makanan, dan bantuan tenaga dari warga serta karung dari instansi pemerintah. Hasil kerja dari modal sederhana itu untuk sementara bisa memberikan rasa aman bagi warga.
Langkahnya tidak berhenti di situ. Deddy dan kawan-kawan juga merambah ke Kuningan. Mereka berjuang membuat kawasan karst Goa Indrakila di Kuningan agar tetap lestari.
Kawasan yang menjadi habitat tanaman langka dan macan ini dikhawatirkan rusak akibat kegiatan penambangan pasir. Deddy berpikir menjadikan kawasan ini sebagai ekowisata lebih menguntungkan dalam jangka panjang dibandingkan proses penambangan pasir yang jelas-jelas merusak lingkungan.
”Indrakila bisa terpelihara dengan ekowisata. Penduduk pun akan ikut memelihara karena ini sumber ekonomi mereka,” kata Deddy suatu sore ketika menengok kawasan karst Maneungteung di Cirebon.
Tabungan sendiri
Deddy akrab dengan dunia lingkungan sejak SMA. Panjat tebing dan naik gunung adalah kegiatannya sehari-hari. Dari situlah dia mengenal alam sangat dekat. Bahkan, hidupnya kini tak bisa jauh dari tumbuhan dan hewan.
Meski demikian, Deddy tidak hidup dari kegiatannya yang berkaitan dengan lingkungan. Ia justru yang menghidupi kegiatan itu dengan mendirikan organisasi nirlaba Petakala Grage pada 1986 bersama teman temannya.
Setiap kali mengadakan kegiatan, seperti kerja bakti pembangunan tanggul, penanaman pohon, atau pelepasan rusa, ia rela mengorbankan tabungan pribadinya. Padahal, dari sisi materi, ayah tiga anak ini hidup sederhana. Sarana transportasinya hanya sepeda onthel dan istrinya masih bekerja sebagai guru honorer di SD Negeri II Ciledug Wetan.
Tentu saja usaha yang dilakukan Deddy tak bisa berhasil tanpa dukungan rekan-rekannya. Sama halnya dengan Deddy, mereka punya jiwa dan kesadaran lingkungan yang tinggi. Untuk hidup, mereka bekerja sebagai mekanik bengkel atau penjahit. Sebagian hasil kerja mereka itu disumbangkan untuk kegiatan pelestarian lingkungan. ”Ini memang panggilan hidup kami, rasanya tidak rela jika pohon dirusak,” ujar Deddy.
Baru-baru ini, Deddy dan 20 kawannya mencoba menghijaukan Bukit Maneungteung di perbatasan Cirebon dan Kuningan dengan tanaman manoa, asam jawa, dan pinang. Seperti langkah sebelumnya, dia melibatkan warga dan menggunakan dana swadaya dari tabungan pribadi mereka.
Bukit itu sejak bertahun-tahun lalu menarik perhatian mereka karena berubah fungsi dari hutan menjadi tambang pasir. Kini separuh bukit telah hilang karena digali pasirnya. Fungsinya sebagai salah satu sumber penyerapan air di wilayah timur Cirebon kini hilang karena tak ada satu pohon pun yang tumbuh.
Gerakan menanam pohon secara swadaya adalah jawabannya karena belum tampak ada tindakan dari pemerintah untuk menyelamatkan lingkungan hutan tersebut.
Meski bermisi sosial, gerakan Deddy tak selamanya berjalan lancar. Niatnya menghijaukan Bukit Maneungteung seluas lebih dari 5 hektar membuat dia harus berurusan dengan polisi. Polisi melarang kegiatan penanaman pohon di bukit yang kini masih dalam perkara hukum karena penambangan ilegal tersebut.
Namun, jangan sebut dia Deddy Kermit jika menyerah. Dia tetap melanjutkan usaha itu. ”Polisi memegang KUHP sebagai dasar tindakan, tetapi kami pencinta lingkungan berpikir beda. Kalau tidak segera dihijaukan, bagaimana nanti jadinya lingkungan ini,” katanya.


  • didik raharyono
    Rabu, 6 Oktober 2010 | 21:17 WIB
    bravo! bravo! hong wilaheng sekareng bawono langgeng.... semoga DIA benar-benar Tidak Tidur.... selamat berdzikir Kang Deddy...

  • marudut siahaan
    Kamis, 30 September 2010 | 12:18 WIB
    Seharusnya semua manusia saat ini, di belahan manapun terutama korporasi-korporasi, pemerintah pusat dan daerah, harus sadar dan bertobat bahwa kita semua tidak bisa hidup tanpa alam. Jika kita tidak memperhatikan kelestarian alam, maka tidak hanya kita yang akan rugi dan menderita, tetapi juga pastinya para anak-anak kita generasi berikutnya. Bertobatlah! Cintailah lingkunganmu!

  • Vega Priyono
    Kamis, 30 September 2010 | 10:48 WIB
    salung A...jd teringat ktika qt bersama melakukan penghijauan di bukit itu pada 1997......semua harapan penghijauan itu kini tergerus keserakahan pembangunan TransJawa

  • Sheila Kartika
    Selasa, 28 September 2010 | 13:10 WIB
    salut dengan orang2 seperti Kang Deddy. semoga semakin banyak yang sadar akan pentingnya lingkungan. salam hijau.

  • wilarno setiawan
    Selasa, 28 September 2010 | 07:17 WIB
    Setuju kang Deddy Kermit, semoga tetap kuat dan didukung lebih banyak lagi oleh warga yang peduli lingkungan.

Luar Biasa : Terusan Panama

Terusan Panama yang menghubungkan Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik dimulai pembangunannya tahun 1882 oleh insinyur Prancis Ferdinand De Lesseps yang juga menjadi perancang pembangunan Terusan Suez.


http://21stcenturywaves.com/blog/wp-content/uploads/2008/10/panama.jpg
Tahun 1878 Prancis mendapat izin dari pemerintah Colombia untuk membangun terusan itu, dan penggalian dimulai 4 tahun kemudian. Tahun 1886 disadari bahwa sangatlah sulit untuk membangun terusan setinggi permukaan air laut seperti Terusan Suez, lalu rencanapun diubah. Tetapi walaupun rencana yang dibuat De Lesseps bagus, namun usahanya kandas karena kehabisan biaya dan korupsi di kalangan bawahannya. Selain itu ribuan pekerja tewas oleh penyakit tropis seperti malaria dan demam kuning. Perusahaan yang didirikan untuk membangun terusan itu akhirnya bangkrut dan pembangunan terhenti.

http://static.howstuffworks.com/gif/panama-canal-2a.gif
Usaha yang sungguh-sungguh untuk melanjutkannya baru dimulai setelah seluruh saham dan hak membangun terusan itu dibeli oleh Amerika Serikat.

Amerika Serikat sebenarnya sudah sejak lama ingin membangun terusan di tanah genting Amerika Tengah. Semula dicoba membangun di Nikaragua tetapi gagal. Sebuah terusan disana akan sangat mempersingkat jarak pelayaran dari San Francisco ke New York misalnya. Keperluannya untuk kepentingan pertahanan nasional semakin dirasakan pada Perang Amerika-Spanyol tahun 1898 sewaktu Angkatan Laut Amerika mengirim kapal penempur Oregon dari San Francisco ke Kuba untuk memperkuat armada Atlantik Amerika. Kapal itu harus berlayar sejauh 13 ribu mil atau 21 ribu kilometer mengitari Amerika Selatan untuk sampai di tempat tujuan. Dan ketika kapal itu sampai, perang sudah usai.

http://www.bobbyrica.com/wp-content/uploads/2008/11/panama-canal.jpg

Tahun 1903 dengan perjanjian antara Amerika Serikat dan Panama, Amerika mendapat hak penuh untuk melanjutkan pembangunan dan mengelola terusan itu. Amerika juga diberi hak penguasaan atas kawasan di kedua pinggir terusan itu yang disebut Panama Canal Zone serta membangun instalasi militer untuk mempertahankan terusan itu dari ancaman asing.

Pembangunan dipimpin oleh Kolonel George W. Goethals seorang insinyur zeni Amerika tahun 1907. Dan akhirnya tahun 1914 terusan itu siap dan tanggal 15 Agustus tahun itu kapal pertama berlayar melintasinya.

 
Berbeda dengan Terusan Suez, Terusan Panama mengandalkan sejumlah pintu air dan sebuah danau buatan. Dari Teluk Limon di Samudera Atlantik, kapal memasuki pintu air Gatun Locks yang mengangkat kapal setinggi 26 meter dari permukaan laut. Sejumlah lokomotif listrik kecil menuntun atau mendorong kapal melintasi pintu-pintu air tersebut. Kapal kecil mematikan mesin dan didorong, sedang kapal besar dituntun tapi tetap bergerak dengan kekuatan sendiri. Pintu air raksasa dari baja di belakang kapal ditutup dan pintu air di depannya dibuka untuk mengalirkan air pelan-pelan dari Danau Gatun. Ada tiga pintu air yang harus dilewati, yang akhirnya menaikkan kapal sampai sejajar dengan permukaan danau.


http://static.travelmuse.com/docs/artwork/destination-page/pa/panama-page-panama-canal-full.jpg


Kapal kemudian melepaskan diri dari lokomotif listrik dan berlayar melintasi danau buatan itu sejauh 22 mil atau 35 kilometer. Danau buatan ini semula adalah lembah Sungai Chagres yang dibendung dengan membangun dam raksasa Gatun. Sesampai di ujung tenggara Danau Gatun kapal memasuki Lintasan Gaillard (gill-yard) yang panjangnya 13 kilometer, lebar 150 meter dan kedalaman minimum 13 meter. Di ujung lintasan Gaillard kapal kembali memasuki pintu air yang juga dilengkapi lokomotif-lokomotif pendorong. Pintu air pertama Pedro Miguel Locks menurunkan kapal 9 meter ke permukaan danau Miraflores. Dari sini kapal kemudian berlayar melintasi danau Miraflores sejauh 2 setengah kilometer ke pintu air Miraflores atau Miraflores Locks. Disini dua pintu air menurunkan kapal sampai sejajar dengan permukaan Samudera Pasifik. Dan dari sini kapal berlayar memasuki Teluk Panama dan kemudian keluar ke Samudera Pasifik.


http://farm4.static.flickr.com/3059/2700156287_5284508cd0_m.jpg
Diukur dari Teluk Limon di Samudera Atlantik ke Teluk Panama di Samudera Pasifik terusan ini memiliki panjang sekitar 82 kilometer dengan lama pelayaran sekitar 8 jam. Duabelas ribu kapal samudera melintasi terusan ini setahun, rata-rata sekitar 33 kapal sehari. Tetapi karena sempit, terusan ini tidak dapat dilewati kapal induk dan kapal tangki raksasa.
Sumber:
http://unik77.blogspot.com/2009/05/indahnya-terusan-panama.html